Toleransi di Lingkup Kampus
B0419050 Rasyid Qomarul Azhar, Penulis, Mahasiswa Program Studi Ilmu Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Sebelas Maret
Indonesia
dikenal sebagai negara kepulauan yang penduduknya terdiri dari beragam Suku,
Bahasa, dan Budaya . Tercatat, Indonesia dengan jumlah kepulauannya yang
mencapai 13.000 pulau ini dengan jumlah penduduk sekitar 250 juta ini diisi
oleh sekitar 300 suku dengan Bahasa yang beragam pula dari masing-masing suku
yaitu 200 bahasa . Selain itu masyarakat Indonesia juga menganut 6 agama
seperti Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, dan Konghucu serta berbagai
aliran kepercayaan asli dari penduduk setempat
Keberagaman bangsa Indonesia ini
dapat menjadi sebuah anugrah juga malapetaka. Menjadi anugrah apabila
keberagaman dalam sebuah negara ini dapat dirawat keberagamannya. Namun, dapat
menjadi sebuah malapetaka pula apabila bangsa ini selalu memandang perbedaan
dalam keberagaman itu sendiri,seperti beberapa kejadian yang terjadi pada
akhir-akhir ini yang dapat kita cermati beritanya di berbagai media massa,media
cetak,dan media-media lainnya. Beberapa kejadian yang terkait dengan sikap
intoleransi yang dilakukan oleh oknum tertentu yang tidak bertanggung jawab terhadap
lapisan masyarakat lain ini menjadi peringatan bagi kita akan pentingnya
menjaga sikap toleransi akan perbedaan dalam keberagaman yang ada dalam negara
kita ini. Tulisan ini akan membahas tentang bagaimana menjaga sikap toleransi
dalam memandang multikulturalisme di Indonesia di lingkup perguruan tinggi
negeri.
Kehidupan
bermasyarakat dalam suatu struktur social tidak bisa lepas dari proses
pendidikan. Proses pendidikan tersebut dalam memandang keberagaman memunculkan
suatu fenomena pendidikan multikulturalisme yang di jelaskan dalam artikel https://jurnal.uns.ac.id/habitus/article/view/20404/15840.
Artikel tersebut memaparkan bagaimana pendidikan multikulturalisme di Indonesia
dalam perjalannya mengalami perubahan besar setelah melalui proses panjang. Semangat
multikulturalisme yang bercorak demokrasi melalui konsep pendidikan melting pot
yang sebelumnya sudah diterapkan oleh beberapa negara seperti Amerika Serikat
dan Kanada kala itu coba diterapkan di Indonesia pada zaman Orde Baru, namun
dalam prakteknya sistem pendidikan ini berjalan dengan kurang efektif karena upaya
pemerintah orde baru kala itu yang mencoba menyeragamkan berbagai perbedaan dengan
landasan semboyan Bhinneka Tunggal Ika justru berdampak pada identitas-identitas
kebudayaan minoritas yang secara tidak langsung terpinggirkan. Meskipun
demikian, sistem ini perlahan-lahan mulai dibenahi pasca adanya reformasi yang membawa semangat toleransi
dalam memandang keberagaman di Indonesia.
Berbagai
institusi pendidikan pun juga berbenah dalam menerapkan sistem pendidikan yang
membawa semangat toleransi ini. Seperti yang dilakukan oleh salah satu
Perguruan Tinggi Negeri di Surakarta yaitu Universitas Sebelas Maret yang
dijelaskan dalam artikel https://uns.ac.id/id/uns-update/peringati-kesaktian-pancasila-uns-perkuat-kampus-benteng-pancasila.html
. Artikel tersebut menjelaskan bagaimana dalam salah satu momen peringatan hari
Kesaktian Pancasila yang disampaikan oleh Wakil Rektor Akademik UNS, Prof
Sutarno. Prof Sutarno dalam paparannya menjelaskan bagaimana memperkuat tekad
dalam menjadikan UNS sebagai Kampus Benteng Pancasila melalui salah satu upaya
yaitu memberlakukan mata Kuliah Pancasila bagi mahasiswa di UNS. Mata Kuliah
Pancasila ini diharapkan dapat mewujudkan nilai-nilai Pancasila melalui kehidupan
sehari-hari sehingga sikap toleransi dan nasionalisme pun tetap terjaga dengan
baik.
Seiring berjalannya waktu, Kampus
UNS juga semakin memperkuat tekadnya dalam menjaga keharmonisan akan
multikulturalnya kehidupan di dalam Kampus Benteng Pancasila ini dengan
pendirian rumah ibadah Klenteng seperti yang dijelaskan dalam artikel https://uns.ac.id/id/uns-update/perkuat-kampus-benteng-pancasila-uns-dirikan-klenteng.html
. Artikel tersebut menjelaskan bagaimana upaya kampus UNS dalam membudayakan
sikap toleransi antar umat beragama di lingkungan kampus dengan mendirikan
rumah ibadah Klenteng. Pembangunan rumah ibadah klenteng ini direalisasikan
karena melihat adanya perkembangan mahasiswa yang beragama Konghucu semakin meningkat
dari tahun ke tahun. Dengan demikian pembangunan klenteng ini dapat
mengakomodir para mahasiswa yang beragama konghucu agar dalam pelaksanakan
peribadatan di lingkungan kampus dapat berjalan dengan baik.
Sejalan dengan pembangunan rumah
ibadah tersebut, sikap toleransi di lingkungan kampus yang telah diterapkan
selama berkuliah di kampus diharapkan dapat dilanjutkan oleh para mahasiswa
setelah lulus perkuliahan dan hidup di tengah-tengah kehidupan bermasyarakat
seperti yang dijelaskan dalam artikel https://uns.ac.id/id/uns-update/luluskan-346-wisudawan-cumlaude-rektor-wisudawan-harus-jadi-duta-toleransi.html
. Artikel tersebut menjelaskan peran para
mahasiswa yang telah lulus dari perkuliahan di kampus UNS diharapkan menjadi
duta toleransi dalam kehidupan bermasyakarat dalam menghadapi kasus-kasus
intoleransi yang terjadi di Indonesia akhir-akhir ini yang marak terjadi
sehingga persatuan dari negara ini tetap terjaga.
Para mahasiswa yang telah lulus dan
diharapakan menjadi duta toleransi ini tentu dalam perjalanan awalnya perlu
dipupuk sikap toleransi sedari awal di dalam kehidupan perkuliahan yaitu dengan
ajakan kepada para mahasiswa baru untuk ambil peran aktif seperti yang
dijelaskan dalam artikel https://uns.ac.id/id/uns-update/gubernur-jatim-ajak-maru-uns-untuk-membangun-toleransi.html.
Artikel tersebut menjelaskan bagaimana dalam Kuliah Umum mahasiswa baru UNS
yaitu ajakan dari Gubernur Jawa Timur, Ibu Khofifah kepada para mahasiswa baru
untuk ambil peran aktif dalam membangun sikap toleransi karena dalam
pemaparannya menurut survei UIN Syarif Hidayatullah dari 34 provinsi di Indonesia, generasi Z cenderung
bersikap intoleransi. Ajakan ini diharapkan
menjadi momen baik bagi para mahasiswa untuk semakin memperkuat rasa toleransi
sehingga generasi muda saat in dapat mengukir prestasi yang lebih baik ke
depannya.
Kehidupan toleransi di masa ini
setelah reformasi dalam perjalannya di lingkup pendidikan terutama perguruan
tinggi negeri semakin berjalan ke arah yang lebih baik. Langkah-langkah nyata dari
salah satu perguruan tinggi negeri di Indonesia yaitu UNS seperti penerapan
Mata Kuliah Pancasila, pembangunan rumah ibadah klenteng bagi para mahasiswa
yang beragama konghucu, ajakan bagi mahasiswa baru untuk menjadi generasi yang
toleran serta pesan kepada para mahasisawa yang telah selesai menyelesaikan
masa studinya di kampus untuk senantiasa menjadi duta toleransi di
tengah-tengah kehidupan masyarakat menjadi bukti nyata dalam memandang
multikulturalisme di Indonesia di lingkup perguruan tinggi negeri.
Komentar
Posting Komentar